Minggu, 23 November 2014

tabung multiplier


Photomultiplier Tubes

Disusun oleh :

Nama              : Clara Sinta Saragih
Nim                 : 4123240004
M.Kuliah       : Pengantar Optik Modern

                                FORMATIF 1
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A.2014/ 2015


DAFTAR ISI


DAFTAR ISI.............................................................................................................             i
BAB I ISI .................................................................................................................             1
1.1.Detektor Sintilasi …………………………………………………..            1
1.2 Defenisi Photomultiplier Tube..........................................................             2
1.3 Karakterisasi Photomultiplier Tube…………………………………            4
1.4 Kelebihan dan Kekurangan PMT……………………………….....             5
1.5. Prinsip Kerja Photo Tube…………………………………….........             5
1.6. Pola Kerja Pemfotodarap (PMT)…………………………………..            6
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................             10













Photomultiplier Tube
1.1.Detektor Sintilasi
Proses sintilasi adalah proses perpendaran cahaya. Detektor sintilasi merupakan detektor yang dapat mengubah radiasi menjadi suatu pendar cahaya. Pendar cahaya ini terjadi bila suatu bahan aktif detektor dikenai radiasi. Peristiwa pemancaran cahaya ini disebut sintilasi sedangkan bahannya disebut sintilator. Dilihat dari jenis bahan pembentuknya, sintilator dibedakan menjadi dua macam yaitu sintilator organik dan anorganik. Contoh sintilator anorganik adalah NaI(Tl), CsI (Tl) dan ZnS(Ag). Sedangkan contoh sintilator organik antara lain antrasen, naphtalen dan stilben.
Kristal NaI(Tl) mempunyai diameter dengan ukuran 0,75 m dan ketebalan 0,25 m serta mempunyai densitas sebesar 3,67 x 103 kg/m3. Emisi panjang gelombang maksimum kristal ini sebesar 410 nm dan efisiensi sintilasi sebesar 100 % serta mempunyai struktur Kristal fcc (face centered cubic). Thallium (Tl) merupakan pengotor kristal dan berfungsi sebagai pengaktif proses pendar cahaya
            Proses terbentuknya kelipan cahaya terjadi melalui dua proses yaitu flouresensi dan fosforesensi. Yang pertama apabila elektron menyerap tenaga dan tereksitasi lalu kembali lagi langsung ke keadaan dasar atau bias juga melalui keadaan metastabil. Deeksitasi ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat yaitu kecil dari 10-8 detik dan disebut fluoresensi. Jenis pancaran yang kedua dapat terjadi apabila suatu elektron yang berada dalam keadaan metastabil mendapat tambahan tenaga dari luar akan pindah ke tingkat tenaga yang lebih tinggi, lalu kembali ke keadaan dasar dengan memancarkan foton cahaya. Proses semacam inidisebut fosforesensi dan terjadi dalam selang waktu 10-8 detik.
Detektor sintilasi selalu terdiri dari dua bagian yaitu bahan sintilator dan photomultiplier. Bahan sintilator merupakan suatu bahan padat, cair maupun gas, yang akan menghasilkan percikan cahaya bila dikenai radiasi pengion. Photomultiplier digunakan untuk mengubah percikan cahaya yang dihasilkan bahan sintilator menjadi pulsa listrik. Mekanisme pendeteksian radiasi pada detektor sintilasi dapat dibagi menjadi dua tahap yaitu :
a.       proses pengubahan radiasi yang mengenai detektor menjadi percikan cahaya di dalam bahan sintilator.
b.      proses pengubahan percikan cahaya menjadi pulsa listrik di dalam tabung photomultiplier

1.2.Defenisi Photomultipier Tubes
PMT adalah suatu teknologi sensor yang digunakan pada scanner drum high-end yang biasa digunakan pada perusahaan percetakan berwarna. Scanner ini sangat mahal dan sulit untuk digunakan. Device ini digunakan untuk memasukkan image ke komputer sebelum ditemukannya komputer desktop. Pengguna dengan hati-hati memasukkan image yang akan di-scan ke dalam drum berbentuk silinder, yang akan diputar dengan kecepatan tinggi. Kemudian mesin akan bergerak secara mekanik dengan sangat akurat untuk menyesuaikan letak sensor tersebut men-scan seluruh image tersebut. Variasi ukuran output yang dapat dihasilkan scanner tersebut didapat dengan cara menggerakkan carriage.
Scanner PMT memiliki dua sumber cahaya, satu untuk memantulkan image asli dan yang satu untuk image dalam bentuk transparan. Cahaya yang dideteksi oleh sensor dipisah ke dalam 3 sinar yang akan melewati filter merah, hijau, dan biru yang akan masuk ke dalam tabung. photomultiplier, di mana cahaya tersebut diubah ke dalam sinyal elektrik.

Detektor jenis ini tidak digunakan lagi dalam mesin CT-Scan modern. Detektor jenis ini hanya merupakan tabung vakum yang besar yang tidak mampu secara langsung mengubah sinar –X yang diredam menjasi sinyal elektrik yang berguna. Alat ini didesain untuk merespon terhadap cahaya tampak. Sehingga, PMT harus benar-benar dibuat sehingga terlindung dari semua sumber cahaya dari luar. Selain itu, alat ini harus disambungkan secara mekanik dengan kristal scintillasi. Kristal ini mampu menghasilkan cahaya tampak pada proporsi intensitas sinar-X yang mengenainya, dan efisiensi dari keseluruhan alat ini hanya berkisar sekitar 50%. Jika terjadi kebocoran cahaya, atau sambungan dengan kristal tidak benar, maka efisiensi akan menurun, dan jika ini terjadi, alat ini harus diganti.
Gambar. Kontruksi PMT
 
Tabung multiplier berfungsi untuk mengubah percikan cahaya tersebut menjadi berkas elektron, sehingga dapat diolah lebih lanjut sebagai pulsa/arus listrik. Tabung multiplier terbuat dari tabung hampa yang kedap cahaya dengan photokatoda yang berfungsi sebagai sensor cahaya pada salah satu ujungnya. Photokatoda yang ditempelkan pada bahan sintilator, akan memancarkan elektron bila dikenai percikan cahaya. Elektron yang dihasilkan akan diarahkan, dengan perbedaan potensial, menuju dinode pertama. Dinode tersebut akan memancarkan beberapa elektron sekunder bila dikenai oleh elektron.
Elektron-elektron sekunder yang dihasilkan dinode pertama akan menuju dinode kedua dan dilipatgandakan kemudian ke dinode ketiga dan seterusnya sehingga elektron yang terkumpul pada dinode terakhir berjumlah sangat banyak. Dengan sebuah kapasitor kumpulan electron tersebut akan diubah menjadi pulsa listrik.
Apabila radiasi gamma memasuki tabung detektor maka akan terjadi interaksi radiasi gamma dengan bahan detektor. Interaksi itu dapat menghasilkan efek fotolistrik, hamburan compton dan produksi pasangan. Karena reaksi ini maka elektron-elektron bahan detektro akan terpental keluar sehingga atom-atom itu berada dalam keadaan tereksitasi. Atomatom yang tereksitasi akan kembali ke keadaan dasarnya sambil memancakan kerlipan cahaya. Cahaya yang dipancarkan itu selanjutnya diarahkan ke foto katoda sensitif. Apabila foto katoda terkena kerlipan cahaya, maka dari permukaan foto katoda itu akan dilepaskan elektron.
Antara foto katoda dan anoda terdapat dinoda-dinoda yang diberi tegangan tinggi dan diatur sedenikian rupa sehingga tegangan dinoda yang di belakangnya selalu lebih tinggi daripada tegangan dinoda di depannya. Perbedaan tegangan antara dinoda kira-kira 100 volt. Elektron yang dilepaskan oleh fotokatoda akan dipercepat oleh medan listrik dalam tabung pelipat ganda elektron menuju dinoda pertama. Dalam proses tumbukan antara elektron dan dinoda akan dilepaskan elektron-elektron lain yang kemudian dipercepat menuju dinoda kedua dan seterusnya. Dinoda terakhir yang terdapat dalam tabung pengganda elektron berupa anoda.
Hasil akhir jumlah pelipatan elektron tergnatung pada jumlah dinoda. Tabung pelipat ganda elektron yang mempunyai 10 tingkat dinodamisalnya, pada anoda (dinoda terakhir yang sekaligus berperan sebagai pelat pengumpul elektron) bisa didapatkan faktor penggandaan elektron antara 107-108. Dengan demikian, sinar gamma yang dideteksi  akan menghasilkan pulsa listrik sebagai keluaran dari detektor NaI(Tl). Tenaga elektron yang dilepaskan ini bergantung pada intensitas sinar gamma yang mengenai detektor. Makin tinggi energi elektron, makin tinggi pula pulsa listrik yang dihasilkannya, sedang makin banyak elektron yang dilepaskan, makin banyak pula cacahan pulsanya. Pulsa listrik dari detektor akan diproses lebih lanjut oleh penguat awal dari peralatan elektronik berupa penganalisis saluran ganda (MCA) sehingga pada layar penganalisis itu dapat ditampilkan spektrum radiasi gamma yang ditangkap oleh detektor. Data tampilan spektrum gamma pada layar penganalisis dapat dipakai untuk analisis spektrometri gamma baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Detektor sintilasi NaI(Tl) memiliki efisiensi yang cukup baik untuk radiasi gamma. Kerlipan cahaya yang dipancarkan dari bahan pemendar memiliki panjang gelombang sekitar 4200 angstrom pada temperatur kamar dengan waktu peluruhannya 0,25 mdetik. Waktu peluruhan ini merupakan waktu yang diperlukan untuk memancarkan sekitar 63 % dari cahaya foton yang disimpan oleh bahan detektor. Kadar Talium sebanyak 0,1 % akan menghasilkan efisiensi detektor yang lebih besar dengan menurunnya temperatur.
Karakteristik dari detektor NaI(Tl) ini, adalah:
a.       Memiliki pancaran kerlipan cahaya yang tinggi dari energi radiasi yang tersimpan dalam bahan detektor;
b.      Memiliki nomor atom (Z) yang tinggi karena adanya atom Iodine (I):
c.       Bahan pemendar padat dengan rapat jenis sebesar 3,57 gr/cm3 memiliki kemungkinan interaksi per cm yang cukup tinggi,
Untuk pencacahan beta, dapat dengan cara melarutkan sampel pada bahan sintilator toluenen,, hal ini dapat meningkatkan efisiensi pencacahan sebesar 100 %.
1.3.Karakterisasi Photomultiplier Tube
Tabung photomultiplier terbuat dari tabung hampa yang kedap cahaya dengan photokatoda yang berfungsi sebagai masukan pada salah satu ujungnya dan terdapat beberapa dinode untuk menggandakan electron seperti terdapat pada gambar 5. Photokatoda yang ditempelkan pada bahan sintilator, akan memancarkan elektron bila dikenai cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai. Elektron yang dihasilkannya akan diarahkan, dengan perbedaan potensial, menuju dinode pertama. Dinode tersebut akan memancarkan beberapa elektron sekunder bila dikenai oleh elektron.
Karakteristik dari PMT adalah:
·         Memanfaatkan efek fotoelektrik
·         Foton dengan nergi lebih tinggi dari workfunction melepaskan elektron dari permukaan katoda
·         Elektron dikumpulkan (dipercepat) oleh anoda dengan tegangan (tinggi)
·         Multiplikasi arus (elektron) diperoleh dengan dynode bertingkat
·         Katoda dibuat dari bahan semi transparan

Biasanya bahan dasar photocathoda dari PMT adalah
a.       Ag-O-C                       e. Bialkali (Sb-K-C, Sb-Rb-Cs)         
b.      Gaas: Cs                      f. Suhu bialkali Tinggi (Na-K-Sb)
c.       InGaAs: Cs                 g. Multialkali (Na-K-Sb-C)
d.      Sb-C                            h. Solar-buta (Cs-Te, C-I)
1.4.Kekurangan dan Kelebihan PMT
Adapun keuntungan dan kerugian menggunakan PMT. keuntungan menggunakan PMT adalah:
ü  Sangat sensitif, dapat digunakan sebagai penghitung pulsa
ü  Pada beban resistansi rendah 50-1000 W, lebar pulsa tipikal 5-50 ns
ü  Gunakan peak detektor untuk mengukur tingat energy

Sedangkan kerugian menggunakan PMT adalah:
ü  Mudah rusak bila terekspos pada cahaya berlebih (terlalu sensitif)
ü  Perlu catu tegangan tinggi
ü  Mahal
1.5. Prinsip Kerja Photomultiplier Tube
Prinsip kerja detektor kelipan ditunjukkan pada Gambar 3. Radiasi memasuki detektor sehingga mengakibatkan elektron atom – atom penyusun material detektor tereksitasi. Ketika kembali ke keadaan dasarnya, elektron orbit memancarkan cahaya. Cahaya ini akan menumbuk katoda yang permukaannya dilapisi photosensitive yang biasanya terbuat dari antimony dan cesium. Akibatnya katoda akan menghasilkan paling sedikit sebuah elektron tiap photon yang mengenainya melalui mekanisme efek photolistrik. Di belakang katoda terdapat tabung pegganda elektron yang dinamakan photomultiplier tube PMT yang terdiri atas beberapa elektroda yang dinamakan dynode yang masing – masing dihubungkan dengan tegangan listrik searah yang secara progresif bertambah besar. Karena antara dynode pertama dengan photocatode terdapat medan listrik, maka photoelektron akan dipercepat geraknya oleh medan listrik menuju dynode pertama. Elektron yang dipercepat ini memiliki energi yang cukup untuk mengeluarkan elektron – elektron dari dynode pertama. Untuk sebuah photoelektron yang mengenai dynode, bergantung pada efisiensi PMT, akan menghasilkan sekitar 10 buah elektron sekunder. Elektron sekunder ini diarahkan geraknya sehingga dipercepat oleh medan listrik antara dynode kedua dengan pertama sehingga dari dynode kedua dihasilkan elektron tersier yang jumlahnya berlipat. Proses seperti ini diulang – ulang sampai akhirnya elektron yang keluar dari dynode terakhir mampu menghasilkan arus keluaran yang besarnya lebih dari sejuta kali dibandingkan arus yang keluar dari katoda. Arus ini masih berupa pulsa muatan sehingga belum dapat dianalisa. Pulsa keluaran PMT dimasukkan ke penguat muka preamplifier dan sinyal yang keluar dari penguat muka sudah dalam bentuk pulsa tegangan dalam orde milivolt
1.6.Pola Kerja Pemfotodarap (PMT)
Untuk mendeteksi level-level cahaya yang sangat rendah, dalam kebanyakan pemakaian diperlukan penguatan khusus bagi arus cahaya. Pemfotodarap atau alat menggandakan cahaya (photomultiplier), menggunakan emisi sekunder untuk memberikan penguatan arus diatas faktor 106 dan berarti menjadi sebuah detektor yang sangat bermanfaat bagi level cahaya yang rendah.
Dalam sebuah pemfotodarap, elektron yang dipancarkan oleh fotokatoda diarahkan secara elektrostatik ke sebuah permukaan pancar sekunder yang disebut dynoda. Jika pada dynoda ini diberikan tegangan kerja yang sesuai, tiga sampai enam elektron sekunder dipancarkan untuk setiap elektron primer yang menumbuk dynoda. Elektron sekunder ini difokuskan ke sebuah dynoda kedua dimana proses berulang. Dengan demikian pancaran katoda semula digandakan beberapa kali.


Gambar di samping memperlihatkan sebuah pemfotodarap beserta sepuluh dynoda. Dynoda terakhir (ke-10) disusul oleh anoda yang mengumpulkan elektron dan dalam kebanyakan pemakaian bekerja sebagai elektron keluaran sinyal.
Pemfotodarap linear pada Gambar di samping (juga dikenal sebagai tabung Matheson) memiliki struktur sangkar pemusat (pemfokus) yang dirancang secara khusus dengan permukaan efektif yang besar untuk pengumpulan elektron cahaya pada dynoda pertama. Tabung Matheson ini menggunakan sebuah katoda lengkung dan cincin-cincin annular untuk pemusatan elektron-elektron cahaya secara elektrostatik. Kontruksi ini memperlihatkan pengumpulan foto-elektron yang sangat efektif dan juga waktu peralihan yang sangat pendek (respons frekuensi tinggi).
Penguatan pemfotodarap bergantung pada jumlah dan sifat-sifat bahan dynoda. Untuk sebuah tabung khas dengan sepuluh dynoda seperti diperlihatkan pada Gambar 2.8, penguatan ini akan  erada dalam orde 106 dengan pemberian tegangan sebesar 100 V setiap tingkatan (dalam hal ini akan diperlukan sumber tegangan 1000 V). Respons spektral dapat dikontrol oleh bahan katoda dan dynoda. Keluaran pemfotodarap adalah linear, serupa dengan keluaran tabung cahaya vakum.
Medan-medan magnetik mempengaruhi penguatan pemfotodarap sebab sebagian elektron mungkin dibelokan dari lintasan normalnya diantara tingkatan-tingkatan, dan dengan demikian tidak pernah mencapai sebuah dynoda atau akhirnya anoda. Dalam pemakaian alat cacah kelipatan efek ini bisa mengganggu, dan untuk ini pelindung magnetik logam-mu sering dipasang sekeliling pemfotodarap.







                                      DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Desi dan Munir.2001.Pengaruh Perubahan Tekanan Tinggi Tabung Photomultiplayer (PMT) Terhadap AMplitudo Keluaran Detektor NaI(Tl).UNDIP:Semarang

Anonym.2010.Alat Ukur Radiasi.




Santoso, Budi wiranto.2011.Desain Dasar Pernagkat Scintigraphy.Jakarta: Pusat Rekayasa Perangakat Nuklir

Santoso, Budi and Leli.2011.Perekayasaan Sistem Deteksi Perangkat Scintigraphy Menggunakan PSPMT.Jakarta : Pusat Rekayasa Perangkay Nuklir



Tidak ada komentar:

Posting Komentar